Kuliner Bukittinggi: Kerajaan Nasi Kapau di Pasar Lereng

Kerajaan Nasi Kapau

“Vin, apa sih bedanya nasi kapau dan nasi padang?”

“Beda, Riz.”

Kalimat pertanyaan Ririz dan jawaban dari Vina itu mengawali rasa penasaran saya, Dhea, dan Atin terhadap nasi kapau. Vina yang berasal dari Bukittinggi tentu bisa mengatakan itu berbeda. Kami? Kami masih merupakan orang-orang Jawa yang terdoktrin dengan rumah makan Padang yang bertebaran di Jawa.

Hari ini kami makan di sebuah rumah makan tanpa embel-embel kata “Padang” yang tentu saja karena berada di Bukittinggi. Seperti khasnya rumah makan nasi Padang di Jawa, di atas meja kami telah tersaji beberapa piring lauk-pauk. Membedakan apa itu nasi kapau dengan nasi padang tidak semudah membedakan apa bedanya nasi liwet dengan nasi rames di Jawa. Tidak semudah itu juga menjelaskannya karena penjelasan panjang lebar Vina tidak kami tangkap dengan segera. Di bayangan kami, apa yang sedang kami makan saat itu adalah nasi padang atau (mungkin juga) nasi kapau. “Oke, besok kita makan nasi kapau,”ajak Vina akhirnya.

Esok harinya, saya terbangun dengan semangat menggebu dengan bayangan akan menyantap nasi kapau di pagi hari. Unfortunately, Bukittinggi diguyur hujan sejak subuh. Kota kecil itu menjadi sangat dingin dan saya harus menahan rasa “kepengen nasi kapau” itu untuk bergelung kembali di dalam selimut. Pukul 10 hujan reda, lalu saya dan teman-teman saya langsung bergegas keluar diiringi rasa lapar.

Suasana Pasar Lereng

Menuju Kerajaan Nasi Kapau

Kami mengikuti langkah Vina: melewati Jam Gadang (tak lupa mampir berfoto), melewati pedagang dengan emperan dagangannya, dan memasuki kawasan pasar. Pasar ini dinamakan Pasar Lereng karena jalanannya yang bagaikan lereng gunung (naik-turun). Tak sedikitpun terbersit di pikiran saya, ini menuju ke tempat berburu nasi kapau. Di bayangan saya, nasi kapau tersebut berada di rumah makan seperti kemarin. Suasana pasar tak kalah ramai dengan Pasar Minggu Gasibu di Bandung. Bedanya, saya tidak mendengar “ sapuluh rebu tiga sapuluh rebu tiga” namun kata “marilaa marilaa” dengan logat minang yang khas. Setelah sepuluh menit berjalan menembus keramaian orang, sebuah pemandangan membuat saya menganga.

INI KERAJAAN NASI KAPAU!

Berpuluh-puluh warung makan nasi kapau tersaji di pandangan saya. Sejauh mata saya memandang, bisa dihitung jari jumlah warung yang tidak menjual nasi kapau. Jika tidak kesini bersama Vina, tentu saja saya dan rombongan akan bingung memilih warung yang mana. Vina yang berjalan di depan dengan gesit melewati beberapa warung, berbelok ke kiri dan kanan, kemudian berhenti di depan warung nasi kapau Ni Er. Saya sibuk mengabadikan pemandangan kerajaan nasi kapau tersebut dengan kamera ketika seorang anak kecil mengintip saya dari balik warung dengan malu-malu.

Nasi Kapau Ni Er

Mengintip Penasaran

Ni Er, sang penjual nasi kapau, dengan gaya khasnya berdiri di balik deretan lauk-pauk dengan tutup kepala dan kemeja kotak-kotak. Lauk-pauk disusun dengan konsep sengkedan (bertangga). Untuk menjangkau lauk yang berada di anak tangga paling bawah, Ni Er menggunakan centhong yang bertangkai panjang. Vina memasuki warung nasi kemudian mengobrol akrab dengan bahasa minang untuk menyebutkan pesanan kami. Vina melarang saya yang ingin memesan nasi ½ porsi saja. “Harganya sama, Bhel,” kata Vina. Untuk memesan nasi kapau, kami hanya butuh menyebutkan lauk apa yang kami mau. Saya memilih ayam bumbu karena kata Vina, ayam itu yang paling enak. Dhea memilih kikil, Atin memilih ikan, Ririz memilih dendeng, dan Vina memilih ayam gulai.

Ni Er melayani kami

“Hanya satu lauk?” pikir saya sembari melihat pilihan lauk-pauk yang menggoda di hadapan saya. Tak butuh beberapa menit hingga pertanyaan saya terjawab. Saya mulai menggumam menganalisa apa saja yang ada di piring saya karena yang saya minta hanya ayam bumbu. Saya mempertanyakan mengapa tidak ada daun singkong seperti di rumah makan Padang di Jawa, lalu Bapak yang duduk di sebelah saya mulai menjelaskan mana yang rebung dan singkong (bukan daun). Ternyata, saya harus meminta ke Ni Er jika saya ingin daun singkong. “Beda ya sama yang di rumah makan nasi Padang,”pikir saya. Di piring saya tersaji nasi putih dengan lauk ayam bumbu dan lauk default: sambel ijo, gulai rebung, singkong dengan potongan kotak-kotak yang dimasak kering dan berbumbu rendang. Tak lupa, sesuatu berbentuk bulat yang saya pikir tahu.

Nasi Kapau dengan Lauk Dendeng Sapi

Nasi Kapau dengan Lauk Ayam Bumbu

Samar-samar saya mendengarkan penjelasan Vina bahwa nasi kapau ini dinamakan sesuai daerah asalnya di Bukittinggi, Kapau. Masih dengan khas makanan minang yang mengandung santan, lauk-pauk nasi kapau juga khas dengan masakan gulai-nya. Konon beras yang digunakan untuk nasi kapau ini menggunakan beras yang berasal dari kapau, jadi tidak sembarang beras. Saya menyantap nasi kapau ini dalam keheningan, antara berusaha khusuk menggunakan indra perasa saya sambil mengunyah nasi kapau rasa dewa ini dan berusaha menalar pembicaraan Ni Er dengan pembeli yang sama-sama menggunakan bahasa minang (yang ini saya susah mengerti apa yang sedang dibicarakan). Setelah menyantap dan menyaksikan sendiri nasi kapau, saya mulai menangkap perbedaannya dengan nasi padang. Tidak bisa dikatakan dengan kata-kata, tapi dapat dirasa dengan indra perasa (lebay, hehe).

Segelas air putih hangat melengkapi kenikmatan nasi kapau ini. Tak mau rugi, beberapa dari kami pun menjilat jari-jari kami sehabis makan. Berusaha merasakan lagi sisa bumbu-bumbu yang menempel. Vina mulai menghitung total biaya makan kami. Tentu saja, kembali bercakap-cakap menggunakan bahasa minang dengan Ni Er. “ Sambilan puluah lapan ribu,” kata Ni Er sementara saya kembali menyeruput air putih hangat.

——–

Beberapa jam kemudian di Taman Budaya Kinantan, di tengah percakapan ngalor-ngidul kami, Vina menyebutkan bahwa sesuatu berbentuk bulat itu adalah usus sapi yang di tengahnya diisi dengan telur dan tahu. Kaget saya. Ah, saya terlalu bersugesti bahwa itu tahu sehingga di lidah saya pun rasa tahu. Semoga nanti saya diberi kesempatan untuk ke Bukittinggi lagi, mengunjungi kerajaan nasi kapau, dan benar-benar merasakan usus sapi isi telur dan tahu; bukan tahu bulat.

“Amboi lamak bana! (Enak sekali!)”

X,

Acknowledgement: @vinahalim for editing the article and accompanying four of us in Bukittinggi. And also, @atinceu @jengririz @dseptia for the breathtaking holiday. Obrigada!

PS. Bukittinggi (English translation: high hill) is located in West Sumatera, Indonesia. You can choose a flight to Padang and then go to Bukittinggi by car.

(Photos were taken by me. Credit is required if you are going to use those in yours. Thank you.)

About these ads

20 thoughts on “Kuliner Bukittinggi: Kerajaan Nasi Kapau di Pasar Lereng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s