kisah dudul

semua BERAWAL dari kereta.

kedudulan ini terjadi wktu gue pulang ke  solo liburan semester kedua kemaren.
(mindahin dari blog yang lama euyy)

Benar. Kenapa semua ini bisa berawal dari sebuah kereta?

Yang tidak dapat kita salahkan karena tentu saja itu adalah benda mati. Yang memiliki tugas mulia untuk mengantarkan penumpang (termasuk SAYA) ke kota tujuan. Tapi tetap saja, SEMUA BERAWAL DARI KERETA.

 

 

 

Ini adalah kisah saya. Seorang mahasiswi LUGU  yang kuliah di Bandung dan hendak pulang ke kampung halamannya di SOLO.

 

 

Ehm. Enaknya saya memulainya bagaimana ya?
Jadi begini, pagi hari ini kisah saya sungguh amat sangat ajaibb. Anda boleh saja mengatakan betapa saya amat sangadd BEGO atau DOGOL. Saya kemarin malam menaiki kereta tujuan surabaya yang bernama TURANGGA. Si Turangga memang nantinya akan mampir sejenak di Solo. Dan tentu saja, saya akan turun di Solo. Mengapa saya memilih Turangga adalah karena DIA CEPAT. Sungguh! Karena terlalu cepat hingga saya pun HAMPIR terbawa hingga ke Surabaya.

Pasti timbul di benak Anda, mengapa demikian?
Okeyy. Saya jelaskan.
Sudah saya ceritakan sebelumnya kalau Turangga HANYA mampir sejenak di Solo. Dan saya yang LUGU ini meminta dibangunkan ketika sudah sampai di Jogja. Dan saya BENAR dibangunkan oleh bapak kondektur baik hati.
Saya benar-benar terbangun. Lalu saya pergi ke toilet bahkan sempat mengobrol dengan teman saya, Ichoet. Karena mata Ichoet sudah mulai mengerjap-erjap, dia lalu tertidur. Dan saya? Bagaimana dengan saya?
Saya yang bingung mau ngapain akhirnya mengambil sebuah novel. Dan dapat Anda bayangkan apa yang terjadi jika membaca novel pada pukul SETENGAH TIGA DINI HARI sambil mendengarkan lagu.
SAYA TERTIDUR. Sebenarnya tidur bukanlah dosa. Namun jika Anda malah tertidur saat Anda seharusnya terbangun, berhenti di Solo, lalu melambaikan tangan pada Turangga yang akan lanjut ke Surabaya, maka Anda sungguh berDOSA.

Dan, itulah SAYA, si pendosa.

Saya kaget, panik, dan langsung menurunkan semua barang-barang saya. Berlari sekuat tenaga ke pintu keluar. Namun apa daya, Turangga tetap melaju. Saya SANGADD panik. Saya segera mencari bapak kondektur baik hati, yang mungkin seharusnya mencekik saya karena saya sungguh merepotkan.

Saya (B): “Pak, Pak, saya harusnya berhenti di Solo.”
Bapak Kondektur Baik Hati (BKBH): “ Loh. Mbak bukannya tadi minta dibangunin pas di Jogja ya?”
B: “ iya pak. Tapi saya harusnya berhenti di Solo.”
BKBH: “ lah sudah nggak bisa mbak. Pemberhentian selanjutnya di Madiun.”

KERETA TERUS MELAJU KENCANG DAN BERDESIR

B: “ HAH? Madiun dimana pak?”
BKBH: “ di Jawa Timur mbak.”
B: (raut muka sangadd panik. Keringat dingin turun. Mulai akan meneteskan air mata. Lalu tiba-tiba HP saya berbunyi) “Ya?”
Ternyata itu adalah Iwan, adek saya yang seperti gorila.
Iwan (I): “MBAK, kowe neng ngendi? (kamu dimana?)”
B: (menjawab dengan pasrah) “ masih di kereta.”
I: “HEH? PIYE THO KOWE? (gimana sih kamu?)”
B: “iya wan. Pas aq bangun, keretanya udah jalan.”
I: “masya Allah. Iki Bapak mbak. (ini bapak mbak)”
Bapak (A): “mbak bhella. Kamu ini gimana sih? Bodoh bangedd. Kalo kereta mau berhenti itu ya bangun. Sudah tahu keretany mau lanjut ke Surabaya. Bla bla bla.”
B: “ iya pakk. Tadi ud bangun. Tapi ketiduran.”
Sumpah! Saya mo nangis.
A: “ tadi bapak udah nelpon stasiun Sragen, katanya bisa berhenti disana. Kalo gak bisa ya sudah. Kamu turun di madiun. Bapak gak mau jemput. Pulang sendiri naik bis.”

KERETA TERUS MELAJU KENCANG DAN BERDESIR

Air mata saya sudah hampir turun.
Teman saya si Ichoet yang akan turun di Surabaya juga ikut-ikutan panik karena temannya yang sungguh BEGO ini. Saya SUKSES membangunkan seisi gerbong pukul 3 pagi karena kepanikan saya dan tentu saja, suara saya yang sering tak tahu diri ini. x)

Akhirnya Bapak menelepon lagi.
A: “tadi Bapak sudah nelpon, kamu berhenti di stasiun Kemiri. Kalo kamu tidur lagi ya sudah.”
B: (LUAR BIASA PASRAH) “ gak tidur lagi kok pak.”
Dan saya pun segera menghampiri bapak kondektur baik hati.
B: “ pak. Kata bapak saya, saya bisa turun di kemiri pak”
BKBH: “ nggak bisa mbak. Ini di daftarnya kereta ini lanjut langsung. Pemberhentian selanjutnya di madiun.”
B: (saya tetap nyerocos dengan pantang menyerah) “ tapi kata bapak saya bisa.”
BKBH: “bapak mbak bukan masinis keretanya mbak. Nggak bisa.”
Untuk seketika saya berharap ini semua adalah MIMPI.

Saya mengambil HP saya dan menelepon bapak saya.
B: “ pak. Kok kata bapak kondekturnya gak bisa…”
A: “ bapak sudah nelpon kepala stasiunnya. BISA!”
B: “ah. Bapak ngomong ke kondekturnya aj dehh.”
Saya menyerahkan HP saya ke Bapak kondektur baik hati.
BKBH: (dengan tenangnya *anjissiah, saya lagi panik pak!*) “selamat malam”
Saya tidak dapat mendengar lagi apa yang bapak saya jelaskan ke BKBH.
BKBH: “ya. Ya. Ya”

KERETA TERUS MELAJU KENCANG DAN BERDESIR

B: “ bagaimana pak?”
BKBH: “mbak bisa berhenti di kemiri.”
Akhirnyaaaaa. Saya kembali ke tempat duduk saya. Dan Ichoet juga lega. Setidaknya saya tidak kebawa ke Madiun. Apa jadinya kalo saya BENAR-BENAR kebawa ke Madiun?
Kemungkinan yang terjadi klo saya kebawa ke Madiun:
·         Mama saya panik. Ya iyalah. Anak perempuan pertamanya dengan ciri-ciri tinggi 145 cm (sehingga lebih dikira anak di bawah umur) dan mengenakan sepatu NIKE KIDS, membawa tas PUMA hitam yang besarnya setengah badan dia, terdampar tak kenal arah di stasiun Madiun.
·         Di koran akan muncul foto anak (tepatnya mahasiswi 18 tahun) hilang bernama NABILA AS’AD.
·         Saya akan menghabiskan pagi hari ini bukan dengan menonton infotainment di TV, tapi di stasiun Madiun sambil tanya ke orang yang lewat bagaimana caranya agar saya dapat tiba di Solo dengan selamat.
·         Banyak preman-preman stasiun Madiun yang mungkin berebutan untuk menculik saya. HII.

Yahhh. Untungnya semua itu tidak terjadi. Kereta akhirnya berhenti di stasiun kemiri. (kemiri? Di mana ituh? Yang saya tahu kemiri itu lada. Saya bahkan tak tahu saya berhenti dimana.)
Saya turun dan mengucapkan perpisahan kepada Ichoet teman saya dan tentu saja sembari meminta maaf karena telah membangunkan seisi gerbong.
Ffuuhhh.

Kisah saya belum selesai disini. Kan sudah saya katakan, SEMUA BERAWAL DARI KERETA.
Saya menunggu jemputan bapak saya di kantor pak masinis. Mengobrol dengan beliau dan mengamati kerja beliau. WOW. Saya terpukau. Ternyata nasib para penumpang kereta bergantung di tangan pak masinis. Beliau yang mengendalikan rel. hebatt. Kok bisa ya bapak masinis masih bertahan bangun pada pukul 4 dini hari?

Bapak saya menjemput, bersama mama dan adek saya si gori. Bapak meminta maaf karena telah merepotkan pak masinis. Setelah masuk ke mobil, mulailah saya diceramahin penjang lebar oleh bapak.
Ternyata, bukan saya saja yang membuat heboh satu gerbong. Bapak, mama, dan gori ternyata JUGA membuat heboh satu stasiun. Pada pukul 3 dini hari, mereka TERPAKSA berlari sprint dari ujung stasiun ke ujung stasiun sembari mencari anak gadisnya yang hilang atau lebih tepatnya, BEGO ketiduran di kereta tanpa dosa. Oohh.
So sweet.

Keluarga saya yang pada dasarnya adalah pecinta makan. Setelah berlarian di stasiun tentu sja kami langsung KELAPARAN. Untung sja kami tinggal di SOLO. Dimana jika kami kelaparan pada pukul 4 dini hari, kami tidak perlu delivery MCD karena  junk food sungguh tidak sehat dan tidak baik bagi kesehatan, dan makanan tersedia di pinggiran jalan. Makanan yang dimaksud bukan makanan pinggiran jalan alay yang tidak sehat dan membuat diare. Tapi MAKANAN ENAK BERKUALITAS TINGGI. Berhentilah kami, di warung gudeg dan bubur bu Harso. Kami makan dengan amat sangat lahap (tentu saja). Dan bapak sudah tidak marah-marah lagi karena keBEGOan anak gadisnya ini. Dan gudeg itu pun terasa sangat nikmat. Yummy.

Kisah saya MASIH belum selesai disini. Kan sudah saya katakan, SEMUA BERAWAL DARI KERETA.
Bapak saya yang ngidam jus melon berkata kepada mama saya, “ma, beli melon ma.” Dan mama saya sang ibu rumah tangga yang mengetahui bahwa pasar di subuh hari menjual sesuatunya dengan harga AMAT SANGADD lebih murah,  langsung menghimbau agar bapak membelokan mobilnya ke pasar.

Dan inilah saya pada pukul setengah lima pagi, terdampar di pasar. Dan meskipun Solo sangat panas, subuh hari terasa sangat dingin. Saya menemani mama saya berputar-putar pasar pinggir jalan itu. Mama saya memborong 9 kg melon, 5 buah nanas, seplastik besar krupuk merah, dan entah-berapa-kilo jeruk peras.
Lalu, bapak saya tiba-tiba muncul karena bosan menunggu di mobil. Dan terjadilah diskusi politik antara saya dan bapak saya.
Bapak: “lihat mbak bhella. Para penjual kebanyakan wanita kan?”
Saya: “ iya pak.”
Bapak: “klo ad yang bilang org indonesia malas-malas itu salah. Coba, kamu tahu nggak klo mereka berangkat dari desanya jam 10 malam dan udah siap-siap disini dari jam 1 pagi?”
Saya: “nggak.”
Bapak: “ indonesia miskin bukan karena rakyatnya yang malas, tapi karena sistem pemerintahannya yang salah.”
Saya: “oohh.”
Dan, sekian perjalanan saya. Kami kembali ke rumah.
Sekian.

Pelajaran yang saya dapat di subuh hari ini:
1.      Jangan KETIDURAN di kereta ketika Anda seharusnya turun.
2.      Mari berlibur ke Solo dan mencari makan di pagi buta.
3.      Saya gak mau kalah sama ibu-ibu pasar yang rajin bekerja tak kenal lelah itu! Yeahhh.

One thought on “semua BERAWAL dari kereta.

  1. kasian bnget mbak,lebih baik mbak nabila naik KA argo wilis/lodaya karna perjalanannya agak gak cepet klo turangga kan kecepetan,dan KA yg sy tunjukin itu brhenti d solo kok trus gak keceptan ada kelas eksekutif/eksekutif argo/bisnis… skali lg jgn ketiduran hehee !! smoga brmanfaat ya!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s