Uncategorized

Apa yang Sebaiknya Saya Lakukan? T^T

Pagi ini sehabis ber-aerobik ria bersama teman kost saya (Sari dan Uput), kami mampir ke daerah Simpang Dago untuk membeli makan. Sebelum ke tempat makan, kami mencari pepaya untuk Sari. Tiba-tiba Uput menyeletuk, “Ya ampun apa sih yang dilakukan Ibu-ibu itu?” Saya dan Sari kontan mencari tahu gerangan Ibu-ibu yang disebutkan oleh Uput.

Dan disitulah Ibu-Ibu tersebut. Beliau adalah seorang ibu tua yang mungkin seumuran dengan eyang saya. Di depan Ibu tersebut terdapat seorang pria dengan gaya dandanan yang kumel dan mereka berdua sedang duduk di pinggir jalan Simpang. Tak lupa, beberapa orang yang penasaran dengan apa yang dilakukan keduanya.

Pria tersebut menyerukan dengan suara lantang dan kerasnya, “Ayo sini cabut gigi yang aman praktis.” Kemudian pria tersebut melakukan sebuah adegan yang membuat kami shock dan melongo total. Pria dengan gaya kumel yang tentu saja bukan lulusan Fakultas Kedokteran Gigi tersebut mencabut gigi Ibu tua tadi dengan sebuah alat pencabut. Dan kemudia pria itu berkata, “Ayo Bu ini kapasnya di-emut dulu agar tidak ada kumannya.” Dan saya, Uput, serta Sari makin shock dibuatnya. Beda halnya dengan ekspresi kami yang bagaikan melihat Lady Gaga muncul belanja di Simpang Dago, para penonton yang daritadi mengerubungi TKP pencabutan gigi malah dengan santai-nya melihat seakan-akan hal tersebut normal.

Hal yang membuat kami super shock:

  1. TKP kejadian adalah di pinggir jalan Pasar Simpang. Oke, saya garis bawahi: PASAR. Dimana mayoritas keadaan pasar di Indonesia adalah becek dan bertebaran sampah-sampah dimana-mana dan tentu saja tidak steril.
  2. Pria tersebut tentu saja bukan lulusan Fakultas Kedokteran Gigi apalagi memiliki sertifikat yang berurusan dengan gigi-gigi tersebut (untuk hal ini saya kurang tahu, namun seingat saya dokter gigi yang dapat membuat gigi palsu atau mencabut gigi harus ada sertifikat khusus. CMIIW)
Perasaan saya setelah melihat adegan tersebut adalah diantara sebal dan kasihan. Saya sebal kenapa Ibu tersebut dengan mudahnya percaya sama tukang gigi palsu dan saya sebal mengapa ada saja orang yang mencari sesuap nasi dengan melakukan hal yang membahayakan orang lain seperti itu. Namun di satu sisi saya kasihan mengapa Ibu tersebut sampai melakukan hal tersebut. Kurang pendidikan kah? Atau karena jasa tukang gigi palsu yang relatif murah? Atau atau lainnya yang berkecamuk dalam pikiran saya.
Sesungguhnya ini agak miris dan membuat saya semakin berpikir, apakah pendidikan di Indonesia memang belum se-merata itu? Apakah tingkat kemiskinan di Indonesia yang makin parah ini membuat orang bisa bekerja APAPUN? Semua orang membayar pajak dan di dalam pajak tentu harusnya ada asuransi untuk kesehatan dong. Bukan yang kaya saja dan punya duit saja yang bisa memperoleh fasilitas kesehatan, masyarakat menengah ke bawah pun harusnya juga bisa. Kita punya banyak alumnus Fakultas Kedokteran & Kedokteran Gigi. Kita punya banyak alumnus fakultas teknik seperti saya (insya Allah calon alumnus tahun ini🙂 ). Sayangnya kita juga punya banyak koruptor dan mafia pajak. Yang dengan asyiknya berlibur ke luar negeri sementara masih saja ada fenomena mengenaskan seperti diatas.
Eh saya juga lupa mencantumkan, kita juga punya banyak wakil rakyat. Yang email resmi saja tak lupa, kalah dengan level mahasiswa macam saya dan teman-teman saya yang punya email khusus di domain students.if.itb.ac.id
Dan, apa yang dapat saya lakukan?
Bicara kontribusi, saya punya banyak impian rencana kontribusi saya. Tidak muluk-muluk, mungkin dapat diawali dengan ikut kegiatan sosial organisasi yang saya ikuti. Dan jujur saja, terkadang jika tugas menumpuk maka saya jadi lebih memprioritaskan tugas tersebut T^T
AH! Saya sudah tidak tahu mau menulis apalagi. Intinya, saya jadi makin kepikiran. Apa yang sebaiknya saya lakukan sebagai salah satu mahasiswi di universitas negeri?

7 thoughts on “Apa yang Sebaiknya Saya Lakukan? T^T

  1. SuperSHOCK!!! Di ceritanya kan ibu2 dgn sos-eko rendah, mana sadar klo ternyata dia hipertensi/DM/punya kelainan darah lainnya… kalau cabut gigi lalu perdarahan gak berenti/terinfeksi… Hiiiiii…. nyawa taruhannya T.T

  2. Ini betulan ya? *garuk2 kepala yg gk gatel*. Permasalahan kita tuh udah kompleks banget ya. Oh ya ttg pendidikan (lagi2), mungkin karena pendidikan kita msih salah kaprah, mungkin selama ini yang berjalan bukan PENDIDIKAN tp PENGAJARAN, itu sebabnya msh banyak orang kita yg belum terdidik meskipun sudah lulus sekolah bahkan sarjana bahkan master tp masih melakukan hal2 seperti yg kamu sebutkan di atas itu…*semoga kita tdk termasuk di situ*

    • amiin smga bukan kita yg termasuk org yg hnya ter-“ajar” itu.

      masalah ini hanya secuil dr dampak2 pendidikan. hrusnya memang pendidikan dinomorsatukan terlebih dahulu bru nanti dampakny bs mengatasi mslah kmiskinan. Namun terkadang beberapa org hnya bpikir duit duit duit terlebih dahulu. Contohny mungkin bnyaknya anak2 kecil mengemis di Bandung😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s