In Spare Time / Movie(s) / Review(s)

Movie Review: Midnight in Paris (2011)

Midnight in Paris (2011)

Woody Allen.

Full names of big star.

Dua rangkaian kata di atas merupakan alasan saya menonton film ini. Oke, saya lupa menambahkan “Paris“– the city of love and fashion.

Woody Allen sebelumnya telah memikat saya dalam film Vicky Christina Barcelona dengan menyuguhkan sebuah film yang unik, nyeleneh, namun melekat di otak saya. Berkesan! itu komentar saya terhadap Vicky Christina Barcelona (2008). Intinya: Saya ingin merasakan “sensasi” menonton film garapan Woody Allen (kembali).

Alasan kedua, silahkan lihat saja poster diatas. Siapa yang tertarik melihat Carla Bruni–ibu negara Perancis– menjadi seorang guide dan melihat Adrien Brody — I melted for the first time seeing his quirky handsome face (not to mention, he is a TALL guy.)— dan Marion Cotillard dengan kecantikan wanita Eropa yang memikat (tak lupa akting memukau Marion di Love Me if You Dare (2003)) serta nama-nama besar lainnya bermain dalam satu frameYeah, I was.

 Jika melihat poster diatas tentu saja Anda dapat menjawab beberapa pertanyaan saya berikut.

Pemain utama? Owen Wilson. Lokasi film? Paris. Genre film? Romance.

Bingo! Film ini merupakan film romantic comedy yang mengisahkan seorang penulis bernama Gil dan calon istrinya, Inez (Rachel McAdams) yang sedang berlibur ke Paris. Karir menulis Gil stagnan dan dia tidak pernah memperlihatkan hasil tulisannya kepada orang lain. Di lain hal, orang tua Inez dengan latar belakang keluarga berada kurang menyetujui hubungan Gil dan Inez. Kisah romance in Paris menjadi semakin magis ketika bel berdentang, midnight is coming.

Saya tidak akan bercerita lebih jauh mengenai apa yang terjadi ketika bel berdentang. But I give you one clue, the 1920s era. Era dimana para seniman besar dunia ada, sebut saja Pablo Picasso dan penulis-penulis yang tentu saja idola Gil.

Awal menonton, saya disuguhkan dengan pemandangan kota Paris dari berbagai sudut dengan alunan aransemen musik romantis. Frame by frame awal pun ditampilkan dengan warna sedikit efek sephia. Pemilihan musik pada film ini tentu saja merupakan kunci terkuat nuansa Paris yang dibawa film ini. Mengingat film ini diperankan dengan mayoritas aktor dan aktris Hollywood dan disutradarai bukan oleh orang Prancis. Jujur saja, saya suka dengan pemilihan musiknya meskipun menurut saya masih belum mengalahkan musik pada film Amelie (2001).

Selain itu, sesuai tujuan saya menonton film ini, gaya khas Woody Allen masih tetap terasa pada film ini (Jika Anda bertanya “gaya khasnya apa?”, silahkan lihat sendiri film2 garapan beliau). Jika dibandingkan dengan cerita Vicky Christina Barcelona, kisah yang disajikan pada film ini lebih simpel. Dimana Gil dihadapkan pada pilihan untuk “terlena” dengan kehidupan midnight in Paris-nya atau kembali ke negara asalnya kemudian menikah dengan Inez. Namun bukan Woody-Allen-aspect lah yang membuat saya tertarik lebih dalam untuk menonton film ini hingga selesai. Saya berkali-kali dikejutkan dengan pemilihan peran yang ada. Sebagai spoiler sudah saya sebutkan sebelumnya, Carla Bruni sebagai guide dan peran bintang-bintang lainnya yang turut mewarnai film ini.  Meskipun untuk peran Pablo Picasso, saya merasa melihat Hitler tanpa kumis.

Dari sisi cerita, saya tak banyak memberi komentar. Simple storyline, jadi saya tak berharap banyak. Apalagi berharap untuk dikejutkan dengan ending yang tak terduga. Bahkan di 1/4 akhir film saya sudah dapat menebak bagaimana ending-nya. Sejauh ini tak banyak film romance yang sukses membuat saya tidak menguap ketika menonton. Kali ini saya tidak menguap. Jadi bisa dibilang, saya memberikan 3.5 out of 5 stars untuk Midnight in Paris. 2 stars untuk cerita, sinematography, musik, dll. 1.5 stars untuk pemilihan peran. Mungkin lain kali jika dibuat sekuelnya, saya bisa mendaftar untuk jadi sekedar pelayan kafe. Asalkan bisa menatap Adrien Brody dengan jarak 20cm atau sekedar curi2 foto Owen Wilson.

bonne nuit!

4 thoughts on “Movie Review: Midnight in Paris (2011)

  1. Hay! Ini adalah blog ketiga yang saya baca membahas Midnight in Paris!😳

    Kebetulan juga saya baru2 ini pengen lihat pilem2 komedi-romantis. Jadi deh, habis Going The DIstance, Bridesmaids, Something Borrowed, No Strings Attached, dan Take Me Home Tonight, saya ngunduh Midnight in Paris ini.:mrgreen:

    Tapiiiiii belum semua saya tonton.😛

    • 2 blog lainnya apa mas? banyakan cewek kah yg nulis review-nya? apalagi dgn latar Paris-nya😀

      di deretan film yg ud mas donlod, yg bru sy lihat selain MIP; No Strings Attached. Kalau yg ini, bru bca sinopsis-nya sj sy sudah nebak alur cerita & ending-nya. Jadi ya pas nonton bnyakan nge-skip. 2 jam film habis dlm wktu kurang dr 1 jam :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s