renungan / Writing

Masuk Universitas Bisa Dibeli?

Beberapa hari yang lalu, Bapak saya mengirimkan bbm, “Mbak, ada teman Bapak anaknya pengen masuk ITB. Nanti dia menghubungi kamu ya u/ tanya2 tentang ITB.” Yang kemudian saya balas dengan, “OK.” Saya kurang tahu bagaimana tahapan serta timeline ujian masuk Perguruan Tinggi (PT) bagi anak2 kelas 3 SMU tahun ini. Yang jelas, saya tahu bahwa 28 Mei pengumuman hasil jalur undangan karena adek saya, Ira, lagi deg2-an menunggu hasil.

Teman Bapak, sebut saja Pak X, menelepon saya siang2. Awalnya saya semangat mau membantu memberikan info yang saya tahu. Apalagi setelah Om tersebut bertanya mengenai T. Informatika ITB, jelas saja saya semangat. Saya beri tahu apa saja yang saya pelajari di program studi saya itu, serta merekomendasikan situs informatika.org jika ingin tahu lebih banyak. Namun lambat laun, pertanyaan si Pak X mulai “malesin” yang membuat saya sendiri ogah2an jawabnya. Oke, berikut saya jabarkan:

Pak X (X): “Tahu ga, Dik Nabila, tahun ini bisa berapa banyak mencantumkan pilihan ITB? Saya ingin anak saya masuk SBM dan T. Informatika ITB (IF).”

Saya (S): “Waduh, om. Coba anaknya bertanya ke gurunya saja. Saya tidak tahu karena ujian masuk PT jaman saya sudah beda jauh dengan yang tahun ini.” (Saya angkatan 2007)

X: “Kalo begitu, saya mau SBM pilihan pertama kemudian IF (STEI ITB) pilihan kedua.”

S: “Om, seingat saya, peringkat STEI diatas SBM. Buang2 kesempatan jika SBM pilihan pertama, STEI kedua. Jika tidak diterima SBM, otomatis STEI juga tidak diterima.”

X: “Loh, bisa saja doooong. Anaknya teman saya contohnya, sudah bayar 300 juta di Univ. A, kemudian dilepas karena diterima ITB. ITB juga pasti begitu, nanti jika ada yang melepas STEI, kursi (jatah)-nya bisa saya beli.”

S: “kok?” (dalam hati: whatthe? ngasal ini om.)

X: “Saya ini sering lho ngebantuin anaknya teman2 saya buat masuk perguruan tinggi favorit. Tapi kok giliran anak saya, saya kesusahan sendiri.”

S: (dalam hati: eh, siapa sampeyan om? Blabbering on and on. Bantuin itu maksudnya: suap?)

X: “Anak saya itu pinter, lho, Saya mah yakin dia bisa masuk perguruan tinggi bagus.”

S: “Ya bagus, om. Anaknya disuruh belajar giat saja.”

X: “Nah itu, kalau saya bisa ketemu sama panitia seleksi PT-nya, saya yakin saya bisa meyakinkan mereka jika anak saya mampu.”

S: (sumpah serapah dalam hati)

X: “Di Univ. B (Universitas swasta favorit di Bandung), ada T. Informatika tidak ya?”

S: “Ada seingat saya. Senior saya dosen disitu.”

X: “wah ada seniornya disitu jadi dosen? kamu kenal baik nggak? Saya mau dikenalkan dengan dia ya. Saya ini penyumbang dana terbesar lho di Univ. B, makanya saya yakin anak saya bisa masuk T. Informatika disitu. Kalau tidak, kamu tanyakan saja siapa yang berwenang untuk proses seleksi T. Informatika disitu, nanti saya saja yang menghadap langsung.”

S: “om, saya tidak bisa bantu yang itu. Saya hanya bisa menanyakan di T. Informatika Univ. B belajarnya apa saja.”

X: “Saya inginnya Dik Nabila carikan contact person yang bisa saya hubungi. Itu kalau Dik Nabila mau membantu lho ya, saya sih berharap Dik Nabila bisa dan mau membantu saya.”

S: (dalam hati: kalau nggak ingat ini teman Bapak, sudah saya matikan telpon deh. grao!) Saya hanya mau membantu yang saya mau saja, Om. Terima kasih.

Setelah percakapan telepon berakhir, saya langsung mem-PING dan mengirimkan bbm ke Bapak agar Bapak menelepon saya. Ya iya dong, saya shock berat kenapa temannya Bapak malah minta saya bantuin anaknya buat masuk Univ dengan cara ga fair. Saya ini dari dulu sebal dengan hal seperti itu. Menurut saya, semua orang berhak memiliki kesempatan yang sama (terutama dalam bidang pendidikan). Pendidikan bukan hanya untuk si Pesuap saja. Contoh yang saya langsung temukan di dunia nyata tersebut membuat saya sedih. Masih ada beberapa orang tua di Indonesia yang ingin anaknya masuk Universitas dengan cara seperti itu. Saya ini masih beranggapan bahwa pendidikan adalah jalan utama memberantas kemiskinan di Indonesia. Kalau seperti itu kasusnya, kapan Indonesia bisa bangkit dari rantai kemiskinan? Kapan, men?

Yang kedua, jujur saja saya kasihan terhadap si anak Pak X. Sebaiknya orang tua percaya dengan kemampuan anaknya. Orang tua dapat membantu dengan bantuan dukungan dan arahan agar anaknya tidak lost dalam memilih PT dan jurusan. Orang tua juga dapat memberikan gambaran karir ke depannya untuk masing2 jurusan yang dipilih anaknya. Bukannya dengan bantuan duit suap. When there’s money, there’s a way gitu? Cih! Kalau ternyata apa yang dilakukan si Pak X ini permintaan anaknya: itu kelewatan namanya! Buat apa you susah2 sekolah dari SD sampai SMU kalau ujung2-nya pakai jalur belakang buat masuk Universitas? Sekali lagi, kapan Indonesia mau maju, meeeeeeeen? Udah deh, mendingan suruh anaknya belajar giat aja. Duit buat liburan atau di-sedekahin aja, om!

Tahun lalu saya sempat menjadi panitia daftar ulang ITB dan banyak bertemu  dan mengobrol dengan beberapa calon mahasiswa ITB yang berasal dari keluarga menengah ke bawah namun mendapatkan beasiswa. Mereka2 ini tidak dikenai uang pangkal yang 55juta itu. Mereka2 ini contoh anak2 yang bersemangat untuk kuliah & mau berusaha mencari2 informasi tentang beasiswa. Justru yang begini ini yang membuat diri saya malu. Saya kalah semangat dibandingkan anak2 baru ini. Bahkan membuat saya menyesal dulu pernah beberapa kali bolos kuliah ketika S1😦😦😦

In the end, percakapan by phone dengan Pak X tersebut menyisakan satu pertanyaan besar di otak saya: masuk Universitas bisa dibeli? Semoga saja tidak. Universitas tidak menerima mahasiswa yang menyuap, tidak memberi nilai bagus kepada mahasiswa yang menyuap, mahasiswa jujur dalam proses mendapatkan nilai, dan mahasiswa juga tidak menggunakan jasa pembuatan skripsi hanya demi gelar. Semoga saja.

8 thoughts on “Masuk Universitas Bisa Dibeli?

  1. Ini adalah penyesalan seorang alumni, maaf ya bhels kalo saya jadi curhat, tapi semoga unek-unek saya bisa berguna *lho, buat siapapun calon mahasiswa bhellabhello blog readers yang mungkin nanti mau cari universitas hehe🙂.

    Baca blog ini saya juga jadi teringat bahwa saya menyesal karena sering bolos juga ketika kuliah di ITB TvT, makanya semester terakhir jadi semester terajin saya di kuliah hahaa.. Saya sangat menyesal kenapa pas di ITB tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mendapatkan/menyedot ilmu sebesar-besarnya. Saya akui paradigma berpikir saya awalnya mungkin sama dengan hampir semua orang di Indonesia ketika mencari universitas, memilih universitas paling favorit agar nanti bisa dimudahkan mencari kerja dan lain-lain, tapi sayangnya mencari ilmu pengetahuan malahan bukan tujuan yang saya utamakan. Padahal sempat ada cita-cita jadi peneliti, tapi makin lama makin dilupakan haha. Dan saya itu jeleknya kalau bukan passion saya, saya suka malas, jadi pas menjalani kuliah saya jalani dengan apa adanya (“asal lulus”) tanpa mempertimbangkan ambisi saya. Akhirnya sekarang pun saya lulus dengan pas-pasan barely there juga, dan akhirnya pencapaian cita-cita saya pun menjadi lebih sulit😦.

    Sekarang pun saya berencana mencari beasiswa S2 untuk menutupi kekurangan ilmu saya untuk mencapai cita-cita saya, dan sayangnya ilmu yang saya cari itu hanya ada di luar negeri. Saya berencana akan menyerap ilmu sebanyak-banyaknya seandainya saya mendapatkan beasiswa tersebut. Dan kemudian saya iseng mendaftar di sebuah website bernama coursera yang menawarkan kuliah gratis dari profesor-profesor universitas terkemuka di dunia. Ketika menonton salah satu lecture-nya, saya pun merasa miris, kenapa ketika saat saya kuliah di ITB, saya tidak berpikir seperti ini, yaitu kuliah untuk menuntut ilmu. Kuliah gratis dari profesor ini saja saya usahakan dapatkan ilmunya, mengapa kuliah yang bayar tidak saya usahakan? Ketika mengingat hal itu, saya pun jadi menyesal😦.

    Supaya tidak terulang penyesalan yang sama untuk para kawula muda (halah :p) calon mahasiswa lainnya, sebaiknya paradigma universitas sebagai ajang gengsi-gengsian atau batu loncatan itu ditinggalkan, utamakan tujuan masuk universitas sebagai ajang mencari ilmu dan meningkatkan kualitas diri, jadi carilah universitas yang menurut kalian paling bermanfaat ilmunya bagi kalian. Kalau memang ternyata universitas itu ada di luar negeri, carilah, seperti mbak bhellabhello ini hehe :p. Kalau di Indonesia untuk saat ini riset pendidikannya paling maju yang saya tahu memang the big three itu (UGM, ITB, UI), tapi kalau di universitas lain ternyata ada profesor yang jago siapa tahu kan hehe. Mungkin di Indonesia saat ini pendidikan belum berkembang, tapi kalau paradigma pemikiran kita berubah, pasti bisa berkembang, orang Indonesia banyak yang pintar-pintar juga kok hehe. Semangaat XD!

    • Nice reply, Yuki! Jadi inget ama 3 Idiots ^^
      Nambahin dikit mungkin.. Kualitas si universitas itu mau nggak mau juga diliat dari kualitas alumninya. Nah, makanya.. jadi walaupun mungkiiin memasukkan anak dengan cara membayar itu bisa menguntungkan universitas secara finansial, tapi hal itu sangat merugikan si citra universitasnya sendiri..
      Btw, kalau cari universitas buat gengsi-gengsian.. yakin deh di suatu titik bakalan galau sendiri 😛

      • Awalnya nulis postingan ini hanya untuk curhat ttg pengalaman mnyebalkan sedunia. Tapi pas baca komen2nya jd makin terinspirasi & semangat deh biar nggak menyia2kan semua kesempatan yg datang ke kita. Seh-mah-ngatz!
        Me likey both of those comments😉

        Nambahin juga, mostly apapun yg di Indo msh terlalu #mainstream. Masuk SMA harus kelas IPA, masuk kampus biar dpt gelar, lulus trus kerja di perusahaan gede/jadi pns/bank. Atau klo cewek dsuru cepet2 nikah. heuuu.

        Padahal realita-nya, yang nentuin kita ke depannya ya diri kita sendiri, yah. bukan title kampus favorit ataupun gelar😀

  2. hmm pengalaman yg hampir sama mbak. Saya juga diminta (dg setengah maksa) buat titipin anak kerabat saya ke salah satu dosen sejurusan hanya karena saya dekat dg dosen tersebut. Saya mikir juga, gimana caranya dosen tsb meloloskan anak tersebut sedangkan tes resminya terpusat.
    Saya yakin kampus saya tidak akan dan tidak pernah akan menggunakan cara seperti itu buat menerima mahasiswa lewat jalur “belakang”. Paradigma kampus negeri favorit masih melekat di masyarakat. Padahal, bukan kampus yg mencetak anak tsb utk sukses, tapi anak itu sendiri yg berusaha mandiri.

    Hopefully, it is gonna be over.

  3. Hi Salam Kenal, Nama saya Jessylin Jessica, dipanggil Jessylin saya baru saja lulus dari bangku SMA, dan berencana ingin melanjut ke UI. Maaf jika saya banyak bertanya, Saya sudah mengikuti SBMPTN 2015 tahun ini, saya mengambil Jurusan Antropologi Sosial dan Ilmu Sejarah di UI, serta saya juga mengambil jurusan Sosiologi di UNPAD. Namun kemaren saya mendapatkan hasil bahwa saya dinyatakan tidak lulus dalam SBMPTN 2015, Jujur saya sangat merasa putus aja dan kecewa, karena saya memang sudah mempersiapkan diri mulai dari jauh jauh hari belajar serius demi untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri favorit saya tersebut, tapi apa hasil yang saya dapat? Saya tidak lulus SBMPTN, Sebelumnya saya juga sudah pernah ikut jalur SNMPTN ( Jalur Undangan ) namun saya tidak lolos juga masuk universitas negeri. Maaf kak kalau saya jadi curhat panjang lebar seperti ini, saya tau kok kalo kita memang tidak saling mengenal satu sama lain, tapi dari artikel yang saya baca di blog ini, membuat saya menjadi tegar dan optimis dalam menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa masuk UI. Keluarga saya sangat berharap sekali kalo saya bisa masuk negeri apalagi bisa jebol ke UI, Tapi nyata nya saya tak mampu untuk meraih gelar mahasiswa UI. Harapan saya satu satunya adalah menunggu hasil SIMAK UI, Itu adalah harapan terakhir saya, Jika saya tidak lolos juga maka saya akan dikuliahkan di Universitas Swasta oleh orang tua saya. Sebenernya ada yang ingin saya tanyakan sama kamu, Tapi sebelumnya saya sangat minta maaf jika pertanyaan ini kurang berkenan, Tanpa mengurangi rasa hormat saya, Saya ingin bertanya, Jadi begini saya pernah baca artikel bahwa jika memang tidak lulus universitas negeri terutama UI, maka bisa terjadi sebuah kesepakatan untuk membayar lebih mahal uang kuliah, seperti uang sumbangan gitu, Dan harganya pun beragam dari puluhan juta sampe ratusan juta bahkan. Nah yang ingin saya tanyakan adalah apa memang bisa jika tidak lulus masuk UI maka kita bisa bayar seperti berupa ‘uang sumbangan’ yang biaya nya cukup besar tapi setelah itu kita bisa langsung diloloskan? Apa benar ada kejadian seperti itu di UI? Katanya jika kita mengenal ‘orang dalam’ yang disana maka kita akan dipermudah untuk masuk UI asal bayar mahal untuk mempermudah kelulusan? Saya mendapatkan kabar itu dari artikel di internet, Jika memang itu benar adanya maka dengan siapa kita harus membayar uang ‘ sogokan ‘ untuk mempermudah masuk UI? Apa memang harus membayar ke orang dalam nya langsung? Tapi bayar ke siapa uang nya? Apa ke BEM nya? Atau ke bagian kemahasiswaan nya? Dan bagaimana cara saya menyampaikan nya kepada orang dalam UI tersebut kalo saya siap bayar mahal sebagai sumbangan asal saya bisa masuk kampus idaman saya yaitu UI? Tolong bantu saya, saya tau ini memang permainan curang, tapi toh saya juga bayar seperti berupa sumbangan subsidi silang kan, demi bisa nembus UI? Kalo pun mau nyogok mesti bayar ke siapa sogokan nya, saya yakin meskipun UI itu kampus yang besar dan hebat tapi pasti ada saja sumbangan untuk mempermudah bagi yang tidak lulus SBMPTN dan Ujian lainnya. Jadi tolong bantu saya ingin sekali masuk UI dan apakah saya bisa nyogok? Dan kalau pun menyogok berupa sumbangn saya harus bilang apa untuk menjelaskan nya dan bayar uang sogokan nya ke siapa? Terimakasih banyak, Salam Kenal.

    • ini nih si kampret ,emang lo udh merasa kaya gitu dengan punya uang semua masalah bisa selesai ??! buka matalo lebar lebar ,masih banyak orang kaya diatas lo yang gamau licik kaya lo ,masih banyak orang gapunya biaya buat kuliah dan belajar mati matian buat ngejar ptn . , suatu saat lo akan kena batunya ,percaya sama gua !

    • belajar aja dah mba ga usah nyogok, dimana pun kuliah tujuan utamanya adalah “menuntut ilmu” bukan sekedar nyari popularitas diri.. Sukses bukan berarti harus misal di PTN A loe yakin lo bakal sukses, ya semua bergantung diri sendiri.. banyak orang sukses yang malah bukan lulusan kuliahan kok contohnya kayak steve jobs ( Apple ) dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s