Food / In Spare Time / Indonesian Cuisine / kuliner / masa muda / Review(s)

Kuliner Bandung: Menaikkan Kolesterol di Sate dan Gulai Kambing H. M. Harris

Rumah Makan Sate & Gulai Kambing H. M. Harris

Semua orang tahu jika kadar kolesterol kambing sungguh tinggi. Tapi kadar kolesterol telur puyuh lebih tinggi. Jadi? Kesimpulan nggak penting saya adalah: daging kambing itu enak banget!😄 (sori nggak nyambung)

Intinya, rasa kangen saya akan sate & gulai kambing Mbok Galak di Solo mengantarkan saya untuk mencoba kuliner Bandung satu ini. Saya pun mengajak teman saya, @nuriifidia & adiknya, Tuwik, yang juga penasaran ingin mencoba. Dari hasil googling, ditemukan bahwa lokasi rumah makan H. M. Harris ini berada di Jalan Asia Afrika no. 151, Bandung. Kami yang ber-angkot ini datang dari arah Braga dan untuk menuju TKP & dilanjutkan dengan berjalan kaki yang ternyata memakan waktu & tenaga. Untung saja, udara Bandung kala sore itu tidak panas dan cenderung sejuk dingin2 gimana gitu. Selain itu, aspek penting yang membuat jalan kaki kami tidak-terasa-tahu2-sudah-sampai ini adalah trotoar super #hwasyek (tanpa diklakson motor) di sepanjang jalan Asia Afrika. Perjalanan (kaki) kami pun berakhir setelah tercium bau-bau asap sate yang dibakar.

Tampak Dalam

Sate & Gulai H. M. Harris ini buka 24 jam. Jadi kalian2 mahasiswa yang kelaparan di tengah malam bisa menambah semangat (baca: kolesterol) di rumah makan ini. Pengunjung tidak akan disodori menu karena memang menunya cuma sate & gulai kambing saja. Untuk pilihan daging, pengunjung bisa meminta daging tanpa/dengan lemak. Kalo saya? Diet sih, jadi minta yang tanpa lemak deeech~ Lain halnya dengan teman saya, dia memesan sate dengan lemak. Menurut dia, lemaknya enak. Tidak yang lembek2 menggelikan dan nggak yang nempel2 di langit2 mulut. Okay, kapan2 akan saya coba yang pakai lemak😉

Sate Kambing

Sate kambingnya disajikan di atas hot plate dan bumbu kacangnya dipisah. Potongan dagingnya besar2 hingga kami bertiga ini kebingungan menghabiskan 30 tusuk sate. Hiks. Jadi saran saya, pertimbangkan dengan bijak berapa tusuk yang sebaiknya Anda pesan yes. Rasa satenya agak kurang kerasa kecapnya, jadi menurut saya sih bahasa lainnya itu… agak hambar. So, saya banyak2 oles si sate di sambel kacang.

Sambel Kacang

Untuk menu gulai kambing, saya agak kecewa karena dagingnya sudah dipisahkan dari tulang-belulangnya. Padahal saya sudah mendamba untuk mbrakoti (boso jowo, artinya: menggerogoti) tulang-belulangnya. Kurang ada sensasi makan gulenya #huft. Tapi untuk rasa: enaaaak. Jempolan deh, meskipun belum bisa ngalahin gulai kambing Mbok Galak, Solo. Oh iya, yang paling penting kalo makan disini itu adalah teh tawar hangat gratis. Ini penting banget terutama buat anak kosan kere macem saya.

Gulai Kambing

Next time saya mendamba gulai kambing di Bandung, saya akan kesini lagi. Jika mendamba sate kambing, saya akan mencoba sate kambing Pak Gino yang kata Tuwik lebih enak. (noted!) Selamat makan, yes!😉

(Photos were taken by me. Credit is required if you are going to use those in yours. Thank you.)

Xx,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s