Food / Porto / Travelling

Jadi Bule di Negeri Bule Part II

Aveiro, the Venice of Portugal

Hello Indonesia, apa kabar? I miss you. A lot. 

Tak terasa, sudah hampir lima bulan saya meninggalkan Tanah Air. Sudah hampir satu semester saya menjalani perkuliahan di uPorto dan selama lima bulan ini juga, saya jadi sering membuka Facebook untuk sekedar melepas rasa kangen kepada Indonesia, terutama keluarga dan teman-teman saya. Really happy knowing that they are doing well. Saya juga sudah mulai betah di Porto. Jika diukur kadar kebetahannya, 90% sudah betah lah.

Mari saya lanjutkan kembali kisah saya menjadi bule di negeri bule.

The Food

Harga satu porsi makanan di Porto berkisar mulai dari 3.5 euro hingga yang mahal-mahal diatas 10 euro (biasanya ini harga di resto-resto sekitaran Douro River –diliput di Jadi Bule di Negeri Bule Part I). Makanan di kantin kampus adalah makanan termurah yang saya temukan di Porto. Complete meals + soup + dessert seharga 2.35 euro. Jangan dikonversi ke dalam rupiah karena jatuhnya setara dengan harga makanan di cafe-cafe gaul di Bandung. Selain itu, porsinya luar biasa!!! Buesar. B U E S A R. Biasanya jika makan di cafe atau restaurant, saya akan bagi dua dengan teman Indonesia saya, Titis (baca: 1/4 porsi untuk saya dan 3/4 porsi untuk Titis. lol.). Namun karena harga yang menguras kantong, saya tidak sering-sering jajan di luar. Seringnya masak, tapi sayangnya saya tidak bisa sedang belajar masak dan saya jadi bosan sendiri sama menu yang saya masak. Itu-itu saja… Jadi begitulah, saya 10% homesick karena makanan.

Baru setelah pulang dari euro trip pas winter break kemarin ini, tiba-tiba saya jadi nafsu banget nyobain resep masakan buat dimasak. ajaib!

Bacalhau & Francesinha

Ada dua makanan yang terkenal sebagai makanan khas Portugal, yaitu Bacalhau dan Francesinha. Bacalhau ini bukanlah nama sebuah menu, berbeda dengan Francesinha yang memang sebuah menu makanan. Bacalhau adalah codfish yang diasinkan dan si codfish ini diimpor dari Norwegia atau negara2 ber-pantai yang dekat dengan kutub utara. Kata teman Portuguese saya, konon terdapat 1001 macam menu olahan Bacalhau ini. SERIBU-SATU. Berasa kisah dongeng 1001 malam yes😉 Jika dibandingkan dengan ikan asin Indonesia (yang biasanya banyak terdapat di beberapa resto Sunda), Bacalhau ini tidak keras alot susah dikunyah, tapi benar-benar lembut seperti daging ikan biasanya. Hanya saja, asin. Saya sudah mencoba Bacalhau di beberapa resto (atau cafe) di Porto dan sejauh ini favorit saya adalah menu Bacalhau pada resto di dekat gedung rektorat uPorto (gambar di bawah), Café Progresso.

Bacalhau @ Café Progresso, Porto

Bacalhau @ Café Progresso, Porto

Mengenai Francesinha, akhirnya dengan bahagia saya bisa menemukan (dan makan) Francesinha tanpa daging babi. Francesinha “spesial” saya kali ini menggunakan beef, mushroom (pengganti sosis) dan disajikan dengan telur setengah matang dan french fries. Tak lupa, ciri khas Francesinha, keju yang menyelimuti “sandwich” Francesinha ini dan saus khasnya. Kata teman saya, yang menjadi daya tarik makanan kaya kalori ini adalah sausnya! Jika dilihat dari foto, nampaknya sausnya pedas namun untuk lidah Indonesia saya: tidak pedas sama sekali. Porsinya yang besar ditambah french fries pun cukup membuat timbunan lemak di tubuh saya makin menumpuk. Hufft~

Francesinha ini merupakan makanan khas dari Porto. Restauran pertama yang “menemukan” Francesinha adalah Regaleira. Regaleira terletak di Rua do Bandardim, 87, Porto. Sejauh ini saya belum mencoba kesana dan I am indeed curious of trying the Francesinha from the restaurant who claims to be the original producer of this Porto cuisine. Jika ingin tahu lebih banyak lagi mengenai Francesinha, silahkan mengunjungi blog ini.

Screen Shot 2013-01-18 at 7.44.21 PM

Francesinha, originally from Porto

Olive Oil

Have I told you that olive oil in Porto is cheaper than the one in Indonesia? Si minyak yang katanya sehat ini merupakan dressing wajib untuk mayoritas menu makanan di Porto. Jika di Indonesia saya makan salad dengan thousand island dressing, disini saya makan salad dengan olive oil dressing. Sehat! Bahkan Portuguese juga menggunakan olive oil untuk memasak nasi. Caranya dengan: panaskan olive oil lalu tumis bawang bombay, setelah bawang bombay agak layu masukkan beras nasi dan aduk selama 2-3 menit, setelah itu baru deh ditambahkan air sesuai takaran dan tunggu hingga beras menjadi nasi.

Pastries, Snacks, & Coffee!

Saya sudah mencoba berbagai macam pastries dan snacks di Porto, terutama the famous Portuguese pie named “Nata”. Nata ini mudah ditemukan dimana saja terutama di coffee shops. Biasanya ada menu paket nata + coffee. Jika memesan kopi di Porto, Anda akan disajikan espresso yang super kuat luar biasa. Dulunya saya tidak sanggup minum espresso ini, namun sekarang…dalam satu tegukan pun beres. Kopi ini menjadi gaya hidup mayoritas Portuguese. Biasanya jika ada break kelas atau ingin ketemu janjian selalu dimulai dengan kalimat, “wanna have a coffee?

Nata

Nata

Snack favorit saya adalah bolinhas de bacalhau. Rasanya seperti makan perkedel bacalhau karena memang ini terbuat dari smashed bacalhau lalu digoreng. Unfortunately, I was busy eating the pataniscas until I forgot to take a “special” pic of it :p Tapii… untungnya kamera saya sempat “menangkap” gambar si pataniscas ini. Pataniscas adalah snack di pokok depan kiri. Yang panjang lonjong itu tuh…

Snacks. Look like what we have in Indonesia.

Snacks. Look like what we have in Indonesia.

Waktu berkunjung ke Aveiro, saya mencoba makanan ringan yang menurut saya agak aneh. Namanya Ovos Moles. Ovos moles ini adalah makanan ringan dan oleh-oleh khas kota Aveiro, sekitar 1 jam dari Porto. Ovos moles dibuat dari kuning telur yang kata teman saya masih terasa amis telur -seperti memakan telur mentah- tapi menurut saya Ovos moles ini manisnya luaaaaaar biasa!

Ovos Moles, Aveiro’s famous pastry. 4.50 Euro for 250gr. Thank you Pak Wahyu🙂

Oke, untuk bagian makanan masih banyak yang ingin saya ceritakan. But let’s save it for other parts😀

The Public Transportation

After visiting some European countries, Porto metro is the cleanest, tidiest, and the best metro I have ever found so far. Stasiun metronya tidak pesing, mesin tiketnya mudah dipahami (plus, menerima pembayaran by card dan uang kertas serta tersedia English translation-nya), dan elevatornya tidak horor seperti di stasiun metro Prague. Kota Porto dibagi menjadi beberapa zona dan sistem pembelian tiket metro tergantung dari zona yang dilalu dari titik asal A ke tujuan B. Karena saya kerap menggunakan transportasi umum, saya meng-apply kartu bulanan yang bisa digunakan untuk naik public transportation apapun termasuk metro dan bis. Tram yang terdapat di Porto adalah tram tua yang biasanya digunakan untuk wisata, bukan alat transportasi publik sehari-hari.

Inside the Metro

Inside the Metro

The Season

Belum afdol rasanya jika belum update cuaca Porto season kali ini. Di tengan musim dingin, Porto tidak bersalju! Meskipun Porto amat sangat jauh lebih hangat daripada negara2 Eropa lainnya, kondisi cuaca Porto minggu ini sungguh membuat saya menyalakan heater (hampir) 24 jam! Hujan badai dengan angin yang super luar biasa kencangnya membuat 2 payung saya rusak dalam 1 bulan terakhir. OMG! dan cuaca dingin ini pun membuat saya sering masuk angin, plus batuk-flu dan kehilangan suara emas saya. Hufft~

—–

FYI, during my winter-break trip, I missed Porto a lot! I didn’t expect that I would miss this city that much. When I arrived at the Porto airport, I felt like finally I had arrived in home.

And that’s all for this part. See you on the next part, todos😉

Beijinhos,

11 thoughts on “Jadi Bule di Negeri Bule Part II

  1. halo mbk Bela, salam kenal. Senangnya bisa bertemu salah satu penerima beasiswa EM, hehe, saya salah satu mahasiswa yg berminta apply untuk beasiswa ini, khususnya EM Lotus Action III. mungkin saya bisa bertanya sesuatu ke mbk Bela ttng beasiswa ini.

    saya berminat ikut program exchange undergraduate. Universitas saya masuk dalam TG III. Namun TG III mensyaratkan pesertanya berasal dari vurnerable grup sedangkan saya bukan berasal dari vurnerable grup tersebut. Lalu dari hasil pencarian saya dimilis2 beasiswa, ada yg menyarankan untuk masuk ke TG II. Namun sayangnya TG II hanya untuk master, post-doctorate, PhD, staff.

    Pertanyaan saya, apakah saya bisa masuk ke TG I yang notabene Universitas saya tidak termasuk partner di dalamnya? jika tidak bisa apa itu berarti bahwa saya tidak bisa apply beasiswa ini? Mohon solusi dan sarannya mbk. Terima kasih🙂

    • Halloooo dina,
      Sorry for my late reply. Aku tanyakan pertanyaan kamu ke Ibu Destri, representative Uni Eropa di Indonesia. Berikut jawaban beliau.

      – apakah saya bisa masuk ke TG I yang notabene Universitas saya tidak termasuk partner di dalamnya? jika tidak bisa apa itu berarti bahwa saya tidak bisa apply beasiswa ini? Mohon solusi dan sarannya mb
      Jawab:
      – Kalau univ nya bukan anggota partner EM Action 2 maka tidak bisa masuk TG 1
      – TG III memang khusus dialokasi bagi mereka yang vulnerable (status pengungsi, kesulitan ekonomi, sosial, dll, sesuai kategori yang ditetapkan oleh univ-nya).

      – Seingat saya, TG3 tidak menggunakan universitas partnership. & apakah TG2 tdk terbuka u/ peluang undergrad exchange?
      Jawab:
      – iya betul TG 3 terbuka untuk umum tetapi harus dapat menjelaskan apa alasan seseorang bisa masuk dalam kategori TG III.
      – Lebih sering undergrad exchange memang ditujukan bagi univ partnership (TG 1) karena ada perjanjian / kesepakatan dalam credit transfer / diploma nya nanti.

      Hope it helps!😉

  2. Pingback: Jadi Bule di Negeri Bule Part III: Saturday in Oporto | (lagi-lagi) kisah DUDUL seorang bhella bhello

  3. Pingback: Jadi Bule di Negeri Bule Part IV: When the Sun Comes to Town | (lagi-lagi) kisah DUDUL seorang bhella bhello

  4. Pingback: Jadi Bule di Negeri Bule Part V: Papa-Paparazzi! | (lagi-lagi) kisah DUDUL seorang bhella bhello

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s